Breaking News

Peringatan G30S/PKI dan Kesaktian Pancasila: Sejarah Darah, Pelajaran di Tengah Sulitnya Ekonomi

PURWOREJO -  Setiap akhir September, bangsa ini kembali menundukkan kepala. Kita memperingati dua peristiwa besar yang saling bertaut: G30S/PKI pada 30 September dan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober.

Sejarah mencatat, pada malam 30 September 1965, tujuh putra terbaik bangsa, para Jenderal dan Perwira TNI AD, diculik dan dibunuh dengan keji dalam upaya kudeta untuk mengganti ideologi negara. Sumur Lubang Buaya menjadi saksi bisu betapa Pancasila pernah ingin dibunuh.

Namun keesokan harinya, 1 Oktober 1965, Pancasila terbukti sakti. Ia tidak tumbang. Ia berdiri tegak karena dijaga oleh darah para pahlawan dan doa rakyat.

Pancasila Diuji Dua Zaman

Menanggapi peringatan tersebut, Ketua Suara Independent Jurnalis Indonesia (SIJI) Kabupaten Purworejo, Gus Takim, menegaskan bahwa peringatan ini harus menjadi cermin untuk kondisi hari ini.

Jika tahun 1965 Pancasila diuji dengan peluru dan pengkhianatan, maka hari ini Pancasila diuji dengan sulitnya ekonomi rakyat," ujar Gus Takim.

Menurutnya, musuh bangsa hari ini bukan lagi kudeta bersenjata, melainkan jeritan rakyat kecil yang semakin sulit bertahan hidup.

Hari ini ibu-ibu menangis karena harga beras naik. Bapak-bapak bingung mencari kerja. Petani menjerit karena pupuk mahal. Pedagang mengeluh karena daya beli anjlok. Inilah ujian kesaktian Pancasila yang sesungguhnya di era sekarang," tegas Gus Takim.

Ia menambahkan, Pancasila hanya akan tetap sakti jika Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia benar-benar dirasakan, bukan hanya dihafalkan saat upacara.

Jangan sampai kita berhasil menjaga Pancasila dari rongrongan ideologi, tapi kita gagal menjaga rakyat dari kemiskinan dan kelaparan. Itu pengkhianatan yang lebih halus," ungkapnya.

Gus Takim mengingatkan, peringatan G30S/PKI bukan sekadar untuk membenci masa lalu, tapi untuk memastikan tidak ada lagi penderitaan rakyat di negeri yang sudah merdeka.

Musuh terbesar Pancasila hari ini bukan mereka yang ingin mengganti ideologinya, melainkan para koruptor, kaum serakah, dan pejabat yang tidak peduli pada rakyat kecil. Mereka inilah PKI gaya baru, yang menyengsarakan rakyat dengan cara yang berbeda," pungkas Gus Takim.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga Pancasila dengan cara yang paling nyata: menjaga perut rakyat agar tetap kenyang, dan menjaga hati rakyat agar tetap percaya pada bangsanya sendiri.

Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Dan Jangan Sekali-kali Membiarkan Rakyat Menderita di Negeri Sendiri.
© Copyright 2022 - JEJAKKASUS.ID