Oleh : Gus Takim
Tangis Rakyat di Tengah Korupsi dan Kebijakan Salah, Ke Mana Para Tokoh?
PURWOREJO, Kamis 4 September 2026 –
Di warung kopi, di serambi masjid, di grup WhatsApp RT. Suara yang sama terus berulang: kecewa.
Kecewa karena harga naik. Kecewa karena bantuan tidak tepat sasaran. Kecewa karena melihat uang rakyat hilang di meja-meja pejabat.
Namun yang paling menyakitkan bukan hanya itu. Yang paling perih adalah ketika tidak ada yang berani menyuarakannya dengan lantang.
Kadang berbicara amar ma'ruf nahi munkar semua diam. Bahkan para tokoh pun tidak pernah bersuara, kalau ada kebijakan yang merugikan. Kadang seperti hormat bila ketemu dengan pemimpin negara ini.
Kalimat itu viral di tengah masyarakat Purworejo. Bukan karena baru, tapi karena terlalu sering terasa benar.
Dari Pusat Hingga Daerah, Luka Itu Sama
Rakyat hari ini tidak buta. Mereka melihat dan merasakan langsung dampak dari rantai kebijakan dan perilaku yang salah.
Di tingkat pusat, kasus korupsi triliunan rupiah silih berganti. Dana bansos dikorupsi saat rakyat kelaparan. Proyek fiktif, suap, gratifikasi. Uang yang seharusnya untuk sekolah, rumah sakit, dan jalan... raib.
Sampai ke daerah, lukanya menjalar. Ada dugaan pengondisian lelang. Ada proyek mangkrak. Ada bansos yang bocor. Ada kebijakan yang lahir dari meja, tapi tidak pernah menyentuh realita di sawah dan pasar.
Akibatnya? Rakyat kecil yang menanggung. Harga kebutuhan naik, lapangan kerja susah, anak putus sekolah.
Semua itu terjadi di atas nama kebijakan dan pembangunan.
Lalu, Ke Mana Para Tokoh?
Ini pertanyaan yang paling menusuk.
Para agamawan, budayawan, akademisi, mantan pejabat, sesepuh desa. Orang-orang yang dulu kita kenal lantang menyuarakan kebenaran.
Mengapa kini banyak yang memilih diam?
1. Takut Kehilangan Akses.
Hormat, yang disebut di awal, sering kali adalah bentuk lain dari sungkan. Takut tidak diundang lagi. Takut proyek untuk yayasannya dicoret. Takut dicap oposisi.
2. Lelah dan Apatis
Sudah bersuara, tapi tidak didengar. Sudah mengingatkan, tapi diabaikan. Lama-lama timbul rasa Ngapain teriak, toh hasilnya sama saja.
3. Tertutup Kepentingan
Pahit untuk dikatakan, tapi ada juga yang diam karena mendapat jatah. Karena sudah nyaman di zona aman. Karena lebih memilih mengamankan diri sendiri daripada membela rakyat banyak.
Diam Adalah Mengkhianati Amanah
Amar ma'ruf nahi munkar" bukan hanya slogan di mimbar Jumat.
Artinya ajak kepada kebaikan, cegah kemungkaran.
Dalam Islam, diam saat melihat kemungkaran padahal mampu mencegahnya, adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah.
Dalam demokrasi, diam saat melihat kebijakan merugikan rakyat, adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik.
Seorang pemimpin butuh dikritisi agar tidak salah arah.
Rakyat butuh pembela agar tidak diinjak.
Dan tokoh... tokoh seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok yang memisahkan.
Ini Bukan Ajakan Membenci, Ini Jeritan Cinta
Kritik ini bukan lahir dari kebencian. Ia lahir dari cinta.
Cinta kepada negeri ini yang sedang sakit.
Cinta kepada anak-cucu kita yang berhak hidup lebih baik.
Cinta kepada para pemimpin, agar mereka kembali ke jalan yang benar.
Karena jika semua terus diam, maka korupsi akan dianggap biasa.
Kebijakan salah akan dianggap takdir.
Dan rakyat... akan terus menangis dalam diam.
Jangan sampai kita semua mewariskan bangsa ini dalam keadaan lebih buruk, hanya karena hari ini kita terlalu takut untuk berkata jujur.
tutup salah seorang warga Purworejo dengan mata berkaca-kaca.
Tim Redaksi
www.jejakkasusgroup.co.id

Social Header