Oleh : Gus Takim
Mari kita tidak akan membahas ilmu yang tinggi-tinggi. Kita akan membahas tentang awak dewe. Tentang diri kita sendiri. Karena ternyata, untuk menemukan Gusti Allah, kita tidak perlu terbang ke langit. Cukup masuk ke dalam hati kita sendiri.
Leluhur kita, para wali di tanah Jawa, meninggalkan 8 kalimat suci. Cekak, tapi jero. Pendek, tapi bisa menjadi sangu mati kita.
Mari kita resapi satu per satu.
1. Sirulloh Krenteke Ati
Pernahkah panjenengan tiba-tiba kangen ingin sholat? Tiba-tiba hati bergetar melihat orang miskin? Tiba-tiba ingin menangis tengah malam ingat dosa?
Itulah Sirrulloh. Itu bukan perasaan biasa. Itu adalah Allah sedang mengetuk pintu hati kita.
Tapi celakanya, banyak dari kita yang menutup pintu itu. Hati diketuk, malah kita sibuk main HP. Hati diketuk, malah kita sibuk ngomongke uwong.
Ojo mateni krenteke ati Jangan matikan getaran itu dengan maksiat. Karena jika getaran itu sudah mati, kita hidup tapi hati kita sudah menjadi bangkai.
2. Dzattulloh Urip Pribadi
Kita ini siapa, Jamaah? Kita bisa bernafas, bisa kedip, bisa melihat anak istri... apakah karena kita hebat?
Bukan. Ada Dzat yang menghidupi kita. Namanya Urip.
Coba panjenengan tahan nafas 2 menit saja. Tidak kuat. Berarti hidup ini bukan milik kita. Ini hanya titipan.
Kalau Dzat itu diambil sedetik saja... selesai. Jasad yang gagah, yang cantik, yang jabatannya tinggi, langsung kaku, langsung di sebut jenazah.
Lalu apa yang mau kita sombongkan?
3. Sifattulloh Cahyo Kang Suci
Allah itu Maha Welas Asih. Sifat welas asih itu dipinjamkan kepada kita dalam bentuk CAHYO.
Makanya, ada orang yang wajahnya biasa saja, tapi kalau dipandang hati jadi adem. Ada orang yang ngomongnya tidak tinggi, tapi kata-katanya menenangkan. Itu karena Cahyone suci.
Bagaimana cara menyucikan Cahyo? Dengan wudhu, dengan dzikir, dengan tidak hasad dan dengki kepada sesama.
Wong yang atine resik, cahyone padang. Wong yang atine bosok, cahyone peteng, meski kulitnya putih.
4. Wujudulloh Sejatining Diri
Ini yang paling penting. Sejatine awak dewe iki dudu jasad. Jasad ini hanya klambi. Sejatinya diri kita adalah Roh.
Jasad berasal dari tanah, akan kembali menjadi tanah. Roh berasal dari Gusti, akan kembali kepada Gusti.
Maka, Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu. Barang siapa kenal jati dirinya, maka ia akan kenal Tuhannya.
Jangan hanya merawat klambi (jasad) dengan makanan enak, tapi lupa merawat yang memakai klambi (Roh) dengan ibadah.
5. Asma' ulloh Rupo Ilahi
Kita hafal Asmaul Husna, 99 nama. Tapi apakah sudah menjadi rupa kita?
Kita berdzikir Ya Rahman Ya Rahim, tapi kita tega kepada tetangga. Kita berdzikir Ya Razzaq, tapi kita pelitnya minta ampun.
Asmaul Husna bukan untuk dihafal di mulut, tapi untuk diwujudkan dalam perilaku. Jadilah rupo ilahi. Jadilah wakil Allah yang welas asih di muka bumi.
6. Af'Alulloh Penggawaene Gusti
Kita ini hanyalah wayang. Gusti Allah adalah Dalangnya.
Jangan pernah merasa kita yang paling berkuasa. Rezeki, jodoh, sehat, sakit, mulia, hina... semua itu penggawene Gusti.
Tugas kita hanya satu: Ikhtiar yang terbaik, dan setelah itu... pasrah, tawakkal.
Wong yang paham ini, hidupnya akan tenang. Jika dapat nikmat, ia bersyukur. Jika dapat ujian, ia sabar. Karena ia tahu, semua ini adalah skenario cinta dari Gusti.
7. Qodrattulloh Kersane Gusti
Manusia berencana, tapi Gusti yang menentukan. Inilah Qodrat.
Kadang kita sudah merencanakan hidup begitu indah, tapi Gusti berkendak lain. Jangan protes. Jangan putus asa.
Karena rencana Gusti jauh lebih indah dari rencana kita. Jika hari ini kita dijatuhkan, bisa jadi Gusti sedang mengajarkan kita cara bersujud lebih dalam.
Kun Fayakun. Jika Gusti sudah berkehendak, tidak ada yang mustahil.
8. Sami' Alloh Kalian Gusti - Puncaknya
Dan inilah puncak dari segala puncak, Jamaah.
Setelah kita paham 7 hal di atas, kita akan sampai pada kesadaran: Ternyata kita tidak pernah sendirian.
Sami'Allah... Allah Maha Mendengar.
Dia mendengar tangis yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapapun. Dia mendengar doa yang hanya kita bisikkan di dalam sajadah yang basah oleh air mata.
Kalian Gusti. Kita selalu bersama Gusti.
Jadi untuk apa takut? Untuk apa merasa sepi?
Penutup
Leluhur kita berpesan: Ojo golek Gusti Allah adoh-adoh, Gusti Allah ono ing atimu dewe.
Jangan cari Allah jauh-jauh. Allah ada di dalam hatimu sendiri.
Bersihkan hati, maka kau akan menemukan-Nya.
Mulai malam ini, mari kita hidupkan kembali 8 kalimat suci ini. Bukan hanya dihafalkan, tapi dirasakan.
Mugi-mugi kita sedoyo wangsul kepada Gusti dalam keadaan hati yang padang, hati yang bersih.
Tim Redaksi
www.jejakkasusgroup.co.id

Social Header