Ada para piayi...
Hidupnya hedon, pestanya tiap malam.
Tapi lupa, di kitabnya tertulis "saling memuliakan".
Lihatlah tamunya...
Jika yang datang mobilnya mengkilap,
gerbang dibuka lebar-lebar.
Disalami paling erat.
Duduk di sofa paling empuk.
Ditanya "Wah, mobil baru ya? Ganti lagi? Berapa cc?
Tawanya paling keras. Fotonya paling banyak.
Tapi jika yang datang...
hanya berteduh di motor butut,
helm masih dipakai masuk teras.
Disuruh duduk di kursi pojok.
Ditanya seperlunya. Ada perlu apa? Cepat ya."
Tehnya pun dingin, karena buru-buru.
Padahal agama mengajarkan...
Manusia itu sama. Yang membedakan hanya takwa."
Bukan plat nomor.
Bukan merek tas.
Bukan tebalnya dompet.
Bukan tinggi rendahnya jabatan.
Tapi sekarang ukuran manusia jadi aneh
Yang kaya "jadi panutan
Yang miskin "Ah paling minta-minta
Piayi... sadarlah.
Hari ini kau jamu orang karena mobilnya.
Besok mobil itu bisa dijual buat bayar utang.
Hari ini kau acuhkan orang karena motornya.
Besok motor itu yang nganterin dia nolong anakmu di jalan.
Ingat...
Yang akan memandikan jenazahmu
bukan teman hedonmu.
Yang akan mendoakanmu di kubur
bukan mobil mewahmu.
Tapi manusia-manusia
yang pernah kau muliakan
saat mereka tidak punya apa-apa.
Jangan sampai kita kaya raya,
tapi miskin adab. Jangan sampai kita dielu-elukan dunia,
tapi dilupakan langit.
Tim Redaksi
www.jejakkasusgroup.co.id


Social Header