Breaking News

Maulid Nabi: Dari Kerajaan Irbil Hingga Sekaten Yogya, Pelajaran 7 Malam 7 Hari Yang Mengubah Sejarah.

Oleh: Gus Takim, Ketua SIJI Kabupaten Purworejo

PURWOREJO – 12 Rabiul Awal. Tanggal yang selalu menggetarkan hati umat Islam. Hari kelahiran Nabi Agung Muhammad SAW. Bukan sekadar peringatan, tapi momentum untuk kembali menautkan rantai cinta kita kepada Rasulullah.

Tahukah Anda, tradisi Maulid yang hari ini kita laksanakan dengan penuh suka cita, ternyata pernah menjadi "obat" bagi sebuah kerajaan yang hampir runtuh?

Kisah 700 Tahun Lalu di Negeri Irbil

Tujuh ratus tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, di sebuah wilayah tak jauh dari Baghdad, Irak, berdiri Kerajaan Irbil. Saat itu dipimpin oleh seorang sultan bijak bernama Sultan Mudhofar Syah.

Namun kerajaan yang megah itu sedang sakit. Selama 7 tahun berturut-turut dilanda krisis multi dimensi. Ekonomi morat-marit. Akhlak masyarakat merosot. Jalan keluar tak kunjung tampak. Sultan pun bingung.

Hingga datanglah nasihat dari seorang ulama besar, Syekh Ahmad Jafar Al-Barzanji. Beliau memberi satu resep sederhana tapi luar biasa:  
"Wahai Sultan, hidupkan kembali cinta kepada Nabi. Gelarlah peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW."

Maka Sultan Mudhofar Syah pun bergerak. Ia memerintahkan digelarnya peringatan Maulid secara besar-besaran. Selama 7 malam 7 hari berturut-turut.

Ribuan kambing, sapi, bahkan unta disembelih. Dagingnya dibagikan gratis kepada rakyat. Di setiap malam, alun-alun kerajaan penuh. Para ulama bergantian berceramah. Dan yang paling utama: dibacakan Kitab Al-Barzanji — kitab yang merangkum sejarah, akhlak, dan kemuliaan Rasulullah SAW.

Hasilnya? Ajaib.  
Usai 7 malam itu, krisis demi krisis rontok satu per satu. Ekonomi pulih. Akhlak masyarakat kembali lurus. Kerajaan Irbil bangkit. Karena mereka akhirnya ingat kembali kepada siapa yang harus diteladani.

Dari Irbil ke Tanah Jawa: Jejak Maulid di Nusantara

Tradisi mulia itu kemudian berlayar ke Nusantara. Di tanah Jawa, Maulid menemukan rumahnya di Kerajaan Demak Bintoro pada masa Raden Fatah.

Atas saran Sunan Kalijaga, alun-alun Demak disulap menjadi lautan manusia. Para Wali berkumpul, berceramah, dan membacakan Kitab Al-Barzanji. Rakyat berbondong-bondong hadir, bersyahadat bersama-sama.

Dari "Bersyahadat" itulah kemudian lahir istilah "Sekaten". Hingga hari ini, tradisi Sekaten masih kita saksikan setiap tahun di Alun-alun Keraton Yogyakarta. Gemuruh gamelan, pasar rakyat, dan syiar Islam menyatu menjadi perayaan yang indah.

Refleksi untuk Kita di Purworejo

Ironisnya, Gus Takim menyampaikan, hari ini banyak dari kita justru mulai lupa. Lupa membaca Kitab Al-Barzanji. Lupa meneladani sejarah Rasulullah.

"Padahal Kitab Al-Barzanji itu bukan sekadar bacaan. Ia adalah cermin. Di dalamnya ada kisah perjuangan, kesabaran, kasih sayang, dan kepemimpinan Nabi yang bisa menjadi solusi atas krisis zaman ini," ujar Gus Takim.

Ia mengajak, di bulan Rabiul Awal ini mari kita hidupkan kembali rumah-rumah dengan shalawat. Majelis-majelis dengan Maulid. Hati-hati kita dengan cinta kepada Rasulullah.

"Karena sejarah sudah membuktikan. Ketika sebuah bangsa dan kerajaan kembali kepada Nabi, maka pertolongan Allah akan datang. Krisis akan selesai," pungkasnya.

12 Rabiul Awal bukan untuk seremonial. Tapi untuk kembali menjadi umat yang dirindukan Rasulullah.

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Tim Redaksi

www.jejakkasusgroup.co.id
© Copyright 2022 - JEJAKKASUS.ID