Oleh : Gus Takim
Sudah bukan rahasia lagi.
Di dunia ini, orang yang punya harta sering kali lebih didengar suaranya.
Lebih dipercaya. Lebih dihormati.
Gelarnya pun bertambah. Ada "Haji" di depan, "Hajah" di belakang. Kuadrat.
Padahal... ilmu belum tentu.
Ngajinya rajin, majelisnya tidak pernah absen. Tuntut ilmu agama luar biasa semangatnya.
Tapi anehnya, hati dan laku belum berjalan seiring.
Ia jarang memberi teladan.
Yang sering terdengar justru celaan.
Mencari salah orang lain. Merendahkan mereka yang hidupnya kurang secara dunia.
Saat bersedekah, tangannya memang memberi.
Tapi hatinya berharap tepuk tangan.
Agar disebut dermawan. Agar namanya harum.
Di masjid pun sama.
Imam yang ilmunya dalam, tapi hidupnya sederhana, sering jadi bahan bisik-bisik.
Kurang pas ceramahnya. Penampilannya kurang.
Lupa bahwa di mata Allah, kemuliaan bukan diukur dari saldo rekening.
Ia bangga bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh besar.
Foto bersama, duduk di shaf depan.
Tapi lupa bersilaturahmi dengan tetangga yang kelaparan di sebelah rumahnya.
Inilah potret getir kita.
Kejujuran dibungkus harta.
Kebaikan dibungkus pencitraan.
Sehingga tanpa sadar, kita meremehkan kanan-kiri.
Padahal Rasulullah mengajarkan:
Bukanlah orang kaya itu yang banyak hartanya, tapi orang kaya itu yang kaya hatinya.
Semoga kita tidak menjadi seperti itu.
Semoga harta tidak membutakan.
Semoga ilmu tidak hanya di lisan, tapi sampai ke hati, lalu turun ke amal.
Karena di akhir nanti...
Yang ditanya bukan berapa nol di rekening kita.
Tapi berapa hati yang kita ringankan.
Berapa luka yang kita obati.
Berapa orang yang kita muliakan, bukan kita rendahkan.
Kekayaan sejati adalah ketika kita cukup untuk memberi, dan cukup rendah hati untuk tidak menyombongkan.
Tim Redaksi
www.jejakkasusgroup.co.id


Social Header