Oleh : Gus Takim
Renungan untuk Hati yang Masih Bisa Merasa
Di sisi kanan jalan kampung...
Ada suara dangdut keras dari teras rumah baru.
Lampu hias kelap-kelip, kayak hajatan tiap malam.
Motor gede parkir berjajar.
Anaknya pulang bawa kardus iPhone,
Sambil ketawa, Liburan ke Bali lagi yuk Ma
Meja penuh ayam bakar dan es teh gelas gede.
Sambil live, sambil pamer.
Captionnya "Kerja keras harus dinikmati"
Bagi mereka, hidup itu pesta.
Takutnya cuma satu: ketinggalan update.
Tinggal nyebrang selokan.
Di sisi kiri jalan yang sama...
Ada Mbah Pawiro. 60 tahun.
Tikar butut jadi kasur. Terpal bolong jadi atap.
Malam ini dagang gorengan cuma laku 12 ribu.
Buat beli beras seliter, buat beli minyak,
Sisanya buat nebus obat cucunya yang panas.
Cah cilik kelas 3 SD nulis PR di bawah lampu tiang.
Soalnya di rumah mati lampu. Belum bayar.
HP-nya nunggu notifikasi bantuan.
Tapi yang datang cuma tagihan.
Mereka lewat di jalan tanah yang sama.
Setiap hari.
Yang kanan kaca mobilnya terlalu gelap buat lihat ke kiri.
Musiknya terlalu kencang buat dengar tangis.
Yang kiri pundaknya terlalu berat buat menengadah.
Matanya terlalu capek buat berharap.
Zaman sekarang lucu ya...
Yang satu bingung: "Uang THR mau buat apa lagi?
Yang satu bingung: "Beras di dapur cukup sampai kapan?"
Yang satu takut: "FYP-ku sepi"
Yang satu takut: "Anakku nggak jajan"
Yang satu posting "Nikmatin hidup selagi muda"
Yang satu sujud: "Ya Allah... paringi cukup"
Ini bukan soal iri .
Ini soal hati kita yang makin lama makin mati rasa.
Sampai kapan kita pura-pura tidak lihat?
Sampai kapan maju hanya jadi gapura desa,
sementara tetangga sebelah masih makan nasi aking?
Mungkin ini teguran dari Gusti Allah.
Yang dikasih lebih... mau nggak nyisihkan?
Yang dikasih kurang... masih mau nggak bersyukur dan usaha?
Ingat...
Mobil baru nanti juga berdebu.
Rumah besar nanti juga sepi kalau anak merantau.
Tapi beras 1 liter yang kau titipkan ke janda,
Seragam sekolah yang kau belikan untuk anak yatim,
Itu yang akan jadi saksi kita di akhirat.
Itu harta yang tidak akan pernah lapuk dimakan rayap.
Sebelum terlambat...
Sebelum jalan desa ini benar-benar memisahkan kita jadi dua dunia,
Menolehlah ke gubuk sebelah.
Tanyakan "Mbah, sudah makan?"
Karena bisa jadi...
Surga kita ada di ujung jalan yang selalu kita lewati,
Tapi tidak pernah kita singgahi.
Wallahu a'lam bishawab
Tim Redaksi
www.jejakkasusgroup.


Social Header