*PURWOREJO* – Di balik layar berita yang Anda baca setiap hari, ada perjuangan panjang seorang jurnalis. Jalan yang tidak selalu mulus, bahkan sering terseok-seok.
Hal itu disampaikan *Gus Takim*, Ketua Suara Independent Jurnalis Indonesia/SIJI Kabupaten Purworejo, saat menyuarakan keresahannya tentang marwah pers di tengah derasnya arus kepentingan.
> _“Jurnalis itu corong masyarakat. Tugas kami menjunjung tinggi keadilan, tetap berimbang, dan berpihak pada kebenaran, bukan pada siapa yang paling kuat,”_ ujar Gus Takim, Kamis 2 Juli 2026.
*Terseok-seok Mencari Fakta*
Gus Takim menggambarkan realita pahit yang dihadapi awak media di lapangan.
> _“Mohon maaf, perjuangan jurnalis itu banyak sandungan. Jalannya pun sering terseok-seok. Mau konfirmasi susah. Mau liputan dipersulit. Kadang data yang penting justru ditutup rapat,”_ katanya lirih.
Bagi Gus Takim, terseok bukan berarti berhenti. Justru di situlah letak kehormatan profesi jurnalis. Bertahan di tengah tekanan, demi suara rakyat kecil yang tidak bisa bersuara sendiri.
*Godaan Terbesar: Saat Dekat Kekuasaan*
Namun, ada satu ujian yang lebih berat dari terseok, yaitu godaan.
> _“Paradoksnya di sini. Begitu sebuah berita dekat dengan kepentingan, apalagi dengan kekuasaan, semua jadi terpenuhi. Yang tadinya sulit, tiba-tiba mudah. Pintu terbuka, data dikirim duluan,”_ ungkapnya.
Ia menegaskan, di titik inilah banyak jurnalis diuji. Pilih tetap di jalan terseok demi rakyat, atau berbelok ke jalan mulus demi kepentingan.
*Pesan untuk Purworejo: Awasi Kami*
Menutup pernyataannya, Gus Takim menitipkan pesan kepada masyarakat Purworejo.
> _“Sekali kami memilih berpihak pada kuasa, maka saat itu juga kami berhenti jadi jurnalis. Kami berubah jadi corong kepentingan. Awasi kami. Ingatkan kami. Karena kami ada untuk Anda, masyarakat,”_ tegasnya.
Pernyataan Gus Takim ini menjadi pengingat bersama. Bahwa pers yang merdeka hanya bisa hidup jika dijaga bersama, oleh jurnalis yang istiqamah, dan masyarakat yang kritis.
Tim Redaksi
www.jejakkasusgroup.co.id


Social Header