PURWOREJO — Di balik hiruk pikuk proyek Mini Zoo yang kini mangkrak di Kelurahan Baledono, tersimpan kisah leluhur yang hampir terlupakan. Bukit kecil bernama Geger Menjangan ini bukan sekadar tanah kosong. Ia adalah saksi bisu peradaban, pertapaan, dan perang tanding para kesatria tanah Bagelen.
Sayangnya, keagungan sejarah itu kini terancam. Geger Menjangan yang dulunya rimbun, saat ini telah dirusak oleh proyek Mini Zoo yang sempat viral. Proyek yang mangkrak dan diduga merugikan negara itu, justru menutup kisah besar yang hidup di tanah ini selama ratusan tahun.
Tempat Bertapa Sang Putra Beri Pelajaran
Menurut cerita turun-temurun, Geger Menjangan dulunya adalah hutan lebat di abad ke-14, setelah runtuhnya Mataram Kuno. Di bukit inilah *Bethara Luano* bertapa.
Bethara Luano bukan tokoh sembarangan. Beliau adalah putra *Raden Hario Bangah*, keturunan bangsawan Kerajaan Pajajaran yang hijrah ke tanah Bagelen untuk menyebarkan ajaran kebaikan. Wibawa dan kesaktiannya membuat beliau disegani warga.
Karena pernah menjadi tempat pertapaan beliau, bukit ini dianggap keramat oleh masyarakat Baledono hingga sekarang.
Asal - usul Nama Geger Menjangan
Nama Geger Menjangan lahir dari sebuah peristiwa besar: perang tanding antara Pangeran Anden I dan Pangeran Jayakusuma dari Banyuurip
Kisahnya begini:
Pangeran Anden I, putra Bethara Luano, kalah menghadapi kesaktian Pangeran Jayakusuma. Dalam kegelisahannya, ia menghadap ayahnya yang sedang bertapa di Geger Menjangan untuk meminta wejangan.
Wejangan dari Bethara Luano inilah kuncinya. Sang pertapa menyarankan putranya meminta bantuan kepada
Lowo Ijo muridnya yang sakti mandraguna dan berasal dari Desa Semagung. Kesaktian Lowo Ijo setara dengan Pangeran Jayakusuma.
Akhirnya pecahlah perang tanding. Turunnya Lowo Ijo ke arena menimbulkan
Geger kegaduhan besar. Setelah perang usai, nama tempat itu digabung dari 3 kata: Geger + Wejangan + Menjangan = Geger Menjangan
Sejak itu, nama ini abadi sebagai penanda sejarah dan spiritualitas tanah Baledono.
Saat Sejarah Kalah Oleh Proyek
Ironis. Bukit yang dulu menjadi tempat bertapa dan memberi wejangan para leluhur, kini berubah wajah. Proyek Mini Zoo yang dibangun di atasnya justru terbengkalai, menjadi pemandangan memprihatinkan dan disebut-sebut sebagai potensi kerugian negara.
Padahal Geger Menjangan bisa menjadi aset budaya dan wisata sejarah yang membanggakan Purworejo. Bukan sekadar bukit, tapi "babad hidup" yang mengisahkan Pajajaran, Bagelen, dan para kesatria.
Kini pertanyaannya kembali ke kita:
Akankah kita membiarkan "Geger Menjangan" terkubur oleh beton yang mangkrak? Atau kita kembalikan marwahnya sebagai warisan leluhur?
Tim Redaksi
www.jejakkasusgroup.co.id
-


Social Header