*PURWOREJO* – Harga telur bebek anjlok membuat peternak Purworejo megap-megap. Lewat forum rapat koordinasi program Makan Bergizi Gratis/MBG di Pendopo Bupati, Senin 8 Juni 2026, peternak minta pemerintah "memotong rantai pasok" dan menetapkan harga seragam yang adil.
Keluhan itu disampaikan langsung *Muhammad Abdullah*, perwakilan Paguyuban Peternak Telur Bebek Purworejo, saat sesi tanya jawab dengan Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi, Bupati Hj. Yuli Astuti, dan Koordinator BGN Kabupaten Wahyu Kurniawan.
*"Kami Apresiasi, Tapi Peternak Sudah di Ujung Tanduk"*
Abdullah membuka curhatnya dengan apresiasi. "Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Pemda Purworejo, Ibu Bupati, Pak Wabup, para asisten, dan Satgas BGN yang merespon keresahan kami para peternak bebek petelur," ujarnya.
Namun ia tak bisa menutup mata pada realita. "Para peternak telur bebek di mana-mana sudah rawan selesai lagi. Harga pakan naik, harga jual telur turun. Kami prihatin juga dengan kejadian di BGN pusat. Maka dari Purworejo, mari kita bangun sinergi dan harmoni antara pemilik dapur, investor, dan pelaku ekonomi kecil," tegasnya.
*3 Usulan Peternak ke Dapur MBG*
Abdullah mengajukan 3 usulan konkret agar MBG benar-benar jadi penggerak ekonomi lokal, bukan hanya jargon:
1. *Potong Rantai Pasok*: "Kami usulkan ada pertemuan khusus pemilik dapur/yayasan dengan paguyuban peternak untuk bicara harga. Tujuannya memangkas rantai pasok. Jangan sampai dari peternak ke dapur jalurnya panjang lewat banyak tengkulak. Akibatnya harga di SPPG tinggi, tapi harga di peternak rendah," jelasnya.
2. *Jaga Quality Control*: "Dengan koordinasi langsung lewat paguyuban, kami bisa jamin telur yang sampai ke dapur itu bagus, layak konsumsi, sehat, higienis. Di kami ada kontrol sebelum telur dikirim ke SPPG yang sudah kerja sama dengan kami," katanya.
3. *Berbagi yang Adil*: Ini poin paling sensitif. Abdullah membongkar "rahasia umum". "Sudah jadi rahasia umum, para pemilik dapur ciptakan supplier sendiri. Seolah belinya mahal, tapi di tingkat petani kita cek harga hanya Rp8.000-Rp11.000. Kami harap tidak ada yang 'mementingkan diri sendiri'. Kami ingin ada berbagi yang wajar," bebernya blak-blakan.
*Minta Harga Seragam Berdasarkan HPP*
Abdullah menutup dengan usulan hitung-hitungan terbuka. "Kami ingin harga telur di Purworejo seragam, serempak. Kita hitung sama-sama HPP, Harga Pokok Produksi telur itu berapa. Biaya operasional sampai dapur berapa. Lalu kita diskusi sehat untuk ketemukan harga yang pantas," pintanya.
Ia berharap Wabup Dion memfasilitasi rakor khusus lanjutan. "Waktu hari ini kurang. Mohon Pak Wabup beri kesempatan kami diskusi langsung dengan perwakilan dapur MBG dan pemerintah untuk bicara nilai kewajaran harga telur," pungkasnya.
Usulan Abdullah ini sejalan dengan arahan Wabup Dion sebelumnya yang "memaksa" dapur MBG wajib beli telur dari peternak Purworejo dan membentuk koperasi/paguyuban agar komunikasi lebih mudah.
Mustakim
www.jejakkasusgroup.co.id


Social Header