*PURWOREJO* – Semangat literasi guru di Kabupaten Purworejo kembali menyala. Dewan Kesenian Purworejo/DKP resmi meluncurkan buku _Antologi Puisi Guru_ di Aula Perpustakaan Kutoarjo, Selasa 30 Juni 2026.
Kegiatan ini dihadiri Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Purworejo *Agung Setiono* mewakili Kadisdikbud, Ketua PGRI Kabupaten Purworejo *Rianto Gunawan*, narasumber sastrawan *Sumanang Tirtasujana*, para penyair guru SD se-Purworejo, serta Komite Sastra DKP.
Ketua DKP Purworejo *Agus Pramono* dalam sambutannya menyebut buku ini bukan sekadar kumpulan kata.
> _“Guru ini bukan sekadar kumpulan kata, melainkan cerminan rasa, pemikiran, dan rekaman peristiwa yang dituangkan menjadi karya seni yang indah. Peluncuran ini bukti nyata semangat literasi di lingkungan bapak-ibu guru terus bertumbuh,”_ ujarnya.
Agus mengapresiasi seluruh guru penyair dan Komite Sastra DKP yang bekerja keras mewujudkan antologi tersebut. Ia juga memastikan proses administrasi anggaran sudah siap, tinggal realisasi setelah kegiatan.
*Ajakan: Puisi Harus Dipentaskan, Bukan Dibaca Saja*
Yang menarik, Agus mendorong agar puisi-puisi dalam antologi tidak berhenti di atas kertas. Ia berharap ke depan karya tersebut digarap dalam bentuk *dramatisasi puisi* dan *musikalisasi puisi* sebagai materi lomba tingkat kabupaten, khususnya jenjang SD.
> _“Pak Rianto dari PGRI, wah ini paling mudah. Aktingnya sudah bagus-bagus kok tadi. Saya berharap puisi-puisi ini dipentaskan. Jadi materi lomba dramatisasi SD. Biar hidup,”_ ungkapnya disambut tawa audiens.
*Nostalgia 45 Tahun Lalu: Puisi Cinta Pertama Lewat Koran*
Momen paling berkesan terjadi saat Agus bernostalgia. Ia bercerita, 45 tahun lalu saat sekolah di Yogyakarta, ia bukan anak orang kaya yang bisa memberi kado ulang tahun berupa kendaraan. Ia juga bukan anak tukang kebun yang memberi bunga.
Karena hobi menulis dan dekat dengan media, ia mengirim puisi ke rubrik seni Koran _Kedaulatan Rakyat_ edisi Minggu Pagi. Negatif film foto puisinya digunting, dibingkai, lalu diberikan ke cinta pertamanya.
> _“Karena cinta pertama, selalu ingat ya,”_ ucapnya sebelum membacakan puisi itu:
> _Barangkali angin mengangkut wangi kembang asri,
> Barangkali daun-daun bercerita tentang pagi, dini,
> Dan barangkali di hari yang suci ini,
> Padamu jua, doaku selalu terpundi._
Pembacaan puisi itu menutup sambutan dengan tepuk tangan meriah. _“Bagus sekali. Terima kasih,”_ pungkas Agus.
Mustakim
www.jejakkasusgroup.co.id


Social Header