Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.
Alhamdulillah malam 10 Syuro/Muharam ini kita dipertemukan Allah dalam keadaan sehat. Bulan Muharam disebut _Syahrullah_ - Bulannya Allah. Puncaknya 10 Muharam, disebut _Yaumul ‘Asyura_. Malam ini bukan hanya tradisik _jamasan, bubur syuro, santunan anak yatim_. Tapi malam muhasabah: mengevaluasi diri & niat kita.
Sebagai jurnalis SIJI, tema ini sangat relevan. Karena tugas kita juga “hijrah” dari kabar hoaks menuju kebenaran.
*ISI - 3 POIN UTAMA
*1. Hikmah 10 Muharam: Hijrah dari yang Gelap ke Terang*
10 Muharam mengingatkan 3 peristiwa besar:
- *Nabi Nuh AS* diselamatkan dari banjir besar. Hikmahnya: kesabaran & tawakal mengalahkan badai.
- *Nabi Musa AS* diselamatkan dari Firaun. Hikmahnya: keberanian melawan kezaliman meski sendirian.
- *Sayyidina Husain RA* syahid di Karbala. Hikmahnya: beliau memilih mati demi prinsip, menolak baiat kezaliman Yazid.
Pelajarannya untuk kita: _Hijrah_. Hijrah itu bukan pindah kota, tapi pindah sikap. Dari malas → disiplin. Dari diam → bersuara. Dari hoaks → tabayyun.
> _“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”_ QS. Ar-Ra’d: 11
*2. Tanggung Jawab Jurnalis di Era “Firaun Digital”*
Zaman sekarang Firaun-nya beda bentuk: hoaks, framing, buzzer, clickbait. Tugas jurnalis SIJI sama seperti Nabi Musa: membelah “lautan informasi” dengan tongkat kebenaran.
Ada 3 amanah jurnalistik yang nyambung dengan spirit Asyura:
1. *Keberanian seperti Husain RA*: Berani menulis kebenaran walau tidak disukai penguasa, pengusaha, atau netizen. _“Katakan yang hak walau pahit”_.
2. *Tabayyun seperti Nuh AS*: Cek & ricek 7 kali sebelum naik kapal berita. Jangan asal _copy-paste_. Konfirmasi ke semua pihak.
3. *Keberpihakan pada yang lemah*: Asyura identik santunan yatim. Jurnalis juga harus bersuara untuk rakyat kecil, korban penggusuran, petani, guru honorer. Bukan jadi corong kekuasaan saja.
> _“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah”_ QS. An-Nisa: 135
*3. Muhasabah Pena di Malam 10 Syuro*
Malam ini mari kita “jamasan batin” untuk pena & jari kita:
1. *Jamasan Niat*: Menulis untuk apa? Untuk like, endorse, atau untuk kemaslahatan umat & daerah? Luruskan niat: _fastabiqul khairat_.
2. *Jamasan Hati*: Bersihkan hati dari dengki, suudzon ke narasumber. Berita bersih lahir dari hati bersih.
3. *Jamasan Tinta*: Pastikan setiap huruf yang kita tulis tidak menzalimi, tidak memfitnah, tidak memecah belah. Karena _“Selemah-lemahnya iman adalah mengingkari dengan hati”_. Jurnalis, mengingkari kezaliman lewat tulisan adalah jihadnya.
Ingat pesan Sayyidina Husain: _“Kematian dengan kemuliaan lebih baik dari hidup dengan kehinaan”_. Mati karir karena menolak amplop haram, lebih mulia dari hidup kaya tapi pena-nya dijual.
*PENUTUP & DOA -
Wahai rekan-rekan SIJI, mari jadikan malam 10 Syuro ini titik balik. Kita hijrah: dari jurnalis _hunter_ berita → jadi jurnalis _penjaga_ kebenaran.
Penutup saya pinjam doa Sayyidina Husain di padang Karbala:
_“Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku berjuang bukan untuk mencari kekuasaan, tapi untuk menegakkan kebenaran-Mu”_.
Semoga Allah ridhoi langkah kita, kuatkan pena kita, dan jadikan setiap tulisan kita pemberat timbangan kebaikan. Aamiin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tim Redaksi
www.jejakkasusgroup.co.id


Social Header