Oleh: Gus Takim - Ketua SIJI Kabupaten Purworejo

PURWOREJO – Di tengah masyarakat yang sedang berjuang menahan beban ekonomi, kita malah disuguhi "tontonan" yang menyakitkan. 

Sebuah ironi. Lembaga yang selama ini lantang menggaungkan penegakan hukum, justru terseret dalam pusaran dugaan korupsi. Akibatnya, kepercayaan publik kembali diuji.

Dari Emas 74 Kg ke Emas Palsu: Publik Bertanya

Kasus yang kini menjadi sorotan nasional itu bermula dari temuan barang bukti berupa emas seberat 74 kg. Namun publik dikejutkan lagi dengan perkembangan terbaru hasil penyidikan yang berubah. 

Pertarungan narasi antar lembaga penegak hukum membuat masyarakat semakin bingung. Hari ini disebut A, besok berubah jadi B. 

Inilah yang membuat rakyat kecil bertanya-tanya. Hukum ini berpihak ke siapa sebenarnya?" ujar Gus Takim.

Hukum Jangan Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas

Bagi Gus Takim, ini bukan soal lembaga mana yang benar atau salah. Ini soal rasa keadilan. 

Di satu sisi, masyarakat bawah tetap menjadi pihak yang paling rentan berhadapan dengan proses hukum. Di sisi lain, ketika menyangkut "orang besar", prosesnya terkesan berbelit dan penuh drama.

Negeri ini butuh kepastian. Jangan sampai hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Rakyat sudah terlalu sering jadi korban," tegasnya.

Butuh Pemimpin Uswatun Hasanah

Di akhir pernyataannya, Gus Takim mengingatkan bahwa bangsa ini butuh sosok pemimpin yang menjadi uswatun hasanah - teladan yang baik. 

Pemimpin yang tidak hanya pandai bicara, tapi juga memberi contoh dalam kejujuran, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat.

Sangat miris melihatnya. Di saat rakyat susah, sebagian penguasa justru hidup berlimpah. Padahal amanah kepemimpinan itu berat. Ini bukan soal siapa, tapi soal sistem dan nurani," pungkas Ketua SIJI Purworejo itu.

Ia berharap, kasus ini menjadi momentum bagi semua lembaga negara untuk introspeksi. Kembalikan marwah hukum sebagai panglima, bukan sebagai alat tawar-menawar.

Karena pada akhirnya, yang paling dirugikan adalah rakyat. Rakyat yang butuh keadilan, bukan tontonan