PURWOREJO – Pendopo Bupati Purworejo berubah menjadi Kraton Mini pada Jumat malam, 17 Juli 2026. Puluhan warga berbondong-bondong datang dengan beskap dan kebaya. Bukan hajatan, melainkan Gending Setu Legi, pagelaran seni klasik Jawa yang sakral dan rutin digelar Dinas Kominfo Stasandi Kabupaten Purworejo.

Suasana magis langsung terasa begitu alunan gendhing mengalun. Tidak ada jeans, tidak ada kaos. Syarat utama masuk: pakai busana Jawa. 

Kesakralan itu harus dijaga. Dulu di kraton ya seperti ini. Sekarang kita nguri-nguri lagi. Pendopo ini ya kratonnya Purworejo," ujar Kepala Dinas Kominfo Stasandi, Ganis Pramudito, S.STP.,M.Si usai acara.

Antara Sakral dan Edukasi
Menurut Ganis, Gending Setu Legi punya 2 roh. Pertama, nguri-nguri budaya. Tarian Gambyong, Tari Sekar Pujiastuti dari siswi SMAN 4 Purworejo, hingga Tari Golek Rahayu dari gabungan SMP se-Kabupaten Purworejo ditampilkan dengan penuh penghayatan.
Tarian seperti Gambyong itu tidak bisa ditampilkan sembarangan di suasana bingar. Di sini harus khusuk. Makanya kita minta penonton pakai beskap. Itu wujud menghormati adi luhurnya budaya Jawa," jelas Ganis.

Roh kedua, diseminasi informasi. Di sela gendhing dan geguritan, panggung juga jadi mimbar publik. 
Kali ini temanya bertepatan dengan Hari Anak Nasional 23 Juli : Bahaya perundungan dan kejahatan seksual online pada anak.

"Ini media tradisional untuk menyampaikan pesan publik. Anak SLTA secara fisik dewasa, tapi secara hukum sampai 18 tahun masih anak. Mereka rentan OPSEA - eksploitasi seksual online. Pesan ini harus nyampe ke orang tua dan sekolah," tegas Ganis.

Anak Muda Jadi Kunci
Yang bikin merinding, panggung malam itu didominasi anak muda. 

"Saya bersyukur. Di tengah era digital, anak-anak masih mau terjun ke tari klasik Jawa. Mereka butuh wadah, dan ini kita sediakan," kata Ganis.
Hal senada disampaikan moderator acara, Neira Anjar Pujisusilo, S.Kom, M.Eng yang juga Kabid Pemasaran Pariwisata Disporapar Purworejo. 
"Gending Setu Legi ini wadah bagi pecinta budaya. Senang lihat anak-anak pakai pakaian adat, foto-foto, lalu apresiasi teman-temannya yang tampil. Harapan saya, mereka bawa teman lain untuk ikut merawat warisan leluhur," ujarnya.

Neira juga menekankan pesan malam itu: "Semoga materi tentang risiko dunia maya tadi bisa disebarluaskan. Jangan sampai ada korban di Purworejo, di keluarga kita, di sekolah kita."

Bedanya dengan Jumenengan*
Menariknya, Ganis membedakan energi Gending Setu Legi dengan ritual Jumenengan di Kraton. 
"Kalau Jumenengan itu lebih magis, lebih sakral sekali. Kalau Gending Setu Legi ini klasik, tapi juga menghibur dan mengedukasi masyarakat. Jadi tidak semua sakral," pungkasnya.

Acara ditutup dengan mocopat dan geguritan yang membuat suasana Pendopo semakin syahdu.

Pesan untuk generasi muda dari Pendopo Purworejo malam itu jelas ,tetaplah cintai budaya Jawa. Karena nilai-nilai Kejawen adalah jati diri kita yang akan tetap eksis sampai kapanpun.

Mustakim


www.jejakkasusgroup.co.id