Purworejo, 28 April 2026 — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi penopang asupan gizi pelajar justru ternoda. Seekor hewan menyerupai ulat ditemukan dalam menu tumis sawi hijau yang disajikan untuk siswa SMP Negeri 2 Purworejo, Selasa (28/4). Temuan ini memantik pertanyaan serius soal standar kebersihan dan pengawasan dapur penyedia.
Kepala SPPG Meranti, Haryo Bagas Wicaksono, membenarkan temuan tersebut saat ditemui di lokasi. Ia menyatakan pihaknya langsung mengganti menu begitu laporan dari sekolah diterima.
“Benar, menu langsung kami ganti dengan yang baru. Pihak sekolah juga tidak mempermasalahkan. Ulat itu berasal dari sayuran, tepatnya menu tumis sawi hijau,” ujarnya.
Meski demikian, pernyataan itu belum meredam sorotan. Haryo menegaskan pihaknya tidak menyalahkan siapa pun dan menyebut kemunculan ulat dapat dipicu berbagai faktor. Ia mengklaim evaluasi internal segera dilakukan. “Kami berbenah di semua divisi dan sudah kami rapatkan. Ke depan harus lebih teliti. Walaupun proses _checking_ sudah ada, tetap harus ditingkatkan,” tambahnya.
SPPG Meranti tergolong dapur baru. Berdiri sejak 25 Agustus 2025, dapur ini baru dua pekan melayani 2.500–2.700 porsi per hari untuk sejumlah sekolah di Purworejo.
Pihak sekolah tak tinggal diam. Humas SMP Negeri 2 Purworejo, Komsotun Mardiyah, meluruskan bahwa pihaknya tidak menyimpulkan jenis hewan yang ditemukan. “Dari warna memang mirip lintah, tapi belum bisa dipastikan. Yang jelas ditemukan di sayur sawi yang sudah tercampur wortel, dan kondisinya sudah mati,” jelasnya.
Komsotun menegaskan prosedur pengecekan makanan sudah dilakukan sebelum disajikan. Temuan itu langsung dilaporkan dan ditindaklanjuti penyedia. “Begitu ditemukan, kami lapor dan menu diganti. Ke depan kami akan lebih waspada, cek dan _cross-check_ sebelum dikonsumsi. Jika ada kekurangan, segera kami laporkan untuk evaluasi,” tegasnya.
Dengan 640 siswa penerima MBG di SMPN 2 Purworejo, 32 siswa per kelas di 20 kelas, insiden ini bukan perkara sepele. Dalam distribusi massal, satu kelalaian kecil berpotensi berdampak luas.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa MBG tidak cukup mengandalkan niat baik dan kecepatan distribusi. Standar higienitas, pengawasan bahan baku, hingga kontrol mutu harus berjalan tanpa kompromi.
Sementara itu, Ketua DPW LSM Tamperak Purworejo, Sumakmun, melontarkan kritik keras. Ditemui di kantornya di Jalan Dewi Sartika, Sindurjan, ia menilai temuan itu tidak bisa dianggap remeh.
“Bagaimana bisa di atas piring ditemukan cacing pengisap darah? Itu menjijikkan dan tidak pantas. Program MBG bertujuan memenuhi gizi anak, bukan berpotensi jadi sumber penyakit,” tegasnya.
Sumakmun berharap kejadian serupa tidak terulang dan mendesak peningkatan standar kebersihan serta pengawasan ketat dalam penyediaan makanan bagi siswa.
Mustakim
www.jejakkasusgroup.co.id


Social Header