PURWOREJO - Harapan siswa SMPN 6 Purworejo untuk mendapatkan makanan bergizi gratis (MBG) harus kandas setelah program yang baru berjalan dua minggu itu tiba-tiba terhenti. Padahal, sejak awal implementasinya pada Oktober lalu, distribusi makanan untuk 574 siswa ini sudah bermasalah dengan sistem pembagian yang tidak merata.
Wahyu Kurnia Lestari, Kepala SMPN 6 Purworejo, mengakui bahwa siswanya memang tidak lagi menerima MBG sejak 8 November 2025.
Masalah ini bermula dari sistem distribusi yang berbeda dengan sekolah-sekolah lain di wilayah tersebut.
“Sejak menandatangani nota kesepahaman dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Pangenrejo pada 3 Oktober 2025, kami mendapat jatah MBG untuk 574 siswa. Namun, sistem pembagiannya menggunakan pola selang-seling,” ungkap Wahyu saat ditemui di sekolahnya, Kamis (20/11/2025).
Berbeda dengan sekolah lain yang memberikan MBG kepada seluruh siswa setiap hari, SMPN 6 menerapkan sistem bergiliran per tingkat kelas. Hari Senin untuk siswa kelas VII, Selasa untuk kelas VIII, dan Rabu untuk kelas IX, begitu seterusnya. Akibatnya, setiap siswa hanya mendapat kesempatan menikmati MBG sekali dalam tiga hari.
Persoalan semakin rumit ketika pada Sabtu (8/11/2025), dari enam kelas IX yang seharusnya mendapat jatah makanan, ternyata kiriman hanya cukup untuk lima kelas. Satu kelas tidak kebagian sama sekali.
“Kami sudah bertanya kepada petugas pengiriman mengapa hanya lima kelas yang mendapat jatah, tetapi tidak ada jawaban yang memuaskan,” kata Wahyu dengan nada kecewa.
Sejak kejadian itu, distribusi MBG benar-benar berhenti total. Siswa-siswa kerap menanyakan kapan program akan dilanjutkan kembali, namun Wahyu hanya bisa menjawab dengan kata “sabar saja” karena ketidakjelasan informasi dari penyedia layanan.
Kondisi berbeda dialami Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Purworejo yang memiliki 1.038 siswa tersebar di dua kampus. Kampus di Jalan Kartini dengan 275 siswa mendapat layanan MBG dari SPPG Mranti dan berjalan lancar setiap hari. Sementara kampus di Kelurahan Pangenjuru Tengah dengan 763 siswa dilayani oleh SPPG Pangenrejo, yang juga mengalami masalah serupa dengan SMPN 6.
Arif Baehaki, guru matematika yang mewakili MAN Purworejo dalam penandatanganan kerja sama dengan SPPG Pangenrejo, menjelaskan kontras kondisi kedua kampus. “Siswa di kampus Kartini rutin mendapat MBG setiap hari tanpa kendala. Sebaliknya, siswa di kampus Pangenjuru Tengah harus merasakan kekecewaan karena layanan terhenti sejak awal Oktober,” tuturnya di sekolah, Kamis (20/11/2025).
Tidak seperti SMPN 6 yang menerapkan sistem selang-seling, seluruh siswa MAN Purworejo seharusnya mendapat jatah MBG setiap hari selama enam hari kerja dalam seminggu. “Itu standar yang seharusnya berlaku untuk semua siswa,” tegas Arif.
Ketika ditanyakan alasan penghentian layanan, pihak dapur hanya menyampaikan permohonan maaf tanpa penjelasan yang memadai. “Mereka bilang tidak bisa melayani, tetapi tidak menjelaskan penyebabnya,” kata Arif.
Namun, ada secercah harapan. Arif mendapat informasi dari SPPG Pangenrejo bahwa distribusi MBG akan dimulai kembali pada Jumat (21/11/2025) setelah terhenti selama dua minggu.
Angga Adi Prasetyo, Kepala SPPG Pangenrejo, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat pada Kamis (20/11/2025), mengklaim persoalan yang menimpa dapurnya sudah terselesaikan. “Kami sudah mulai operasional,” katanya singkat.
Situasi ini mencerminkan tantangan dalam implementasi program MBG yang seharusnya menjadi solusi untuk mendukung gizi siswa. Ketidakkonsistenan layanan dan kurangnya transparansi informasi justru menimbulkan kekecewaan di kalangan siswa dan guru.
Program yang dimaksudkan untuk meringankan beban orang tua dan meningkatkan kualitas gizi siswa malah menjadi sumber ketidakpastian, terutama bagi siswa SMPN 6 yang hanya sempat merasakan manfaatnya selama dua minggu dengan sistem yang tidak optimal. (Imron)
Mustakim
www.jejakkasusgroup.co.id


Social Header