Menjelang Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Neira Anjar Pujisusilo, http://S.Kom, http://M.Eng jadi teladan anak muda: paham IT, dekat Gen Z, tapi tetap berakar pada nilai Pancasila
*Purworejo* – Di usia muda, Neira Anjar Pujisusilo, http://S.Kom, http://M.Eng sudah memegang jabatan strategis sebagai Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Purworejo. Tapi yang membuat namanya jadi sorotan bukan hanya jabatannya, melainkan cara ia menghidupi Pancasila di era digital.
Menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, Neira muncul sebagai salah satu tokoh muda yang membuktikan bahwa nilai-nilai Pancasila tetap relevan, bahkan menjadi kompas dalam bekerja dan bergaul dengan generasi milenial dan Gen Z.
*Dari Kominfo ke Pariwisata, Membawa Semangat Gotong Royong Digital*
Sebelum menjabat di Dinas Porapar, Neira pernah menjadi Kepala Bidang Publikasi di Dinas Komunikasi dan Informatika. Latar belakangnya sebagai ahli IT membuatnya piawai meramu teknologi dengan pelayanan publik.
Kedekatannya dengan awak media dan komunitas kreatif membuat setiap program yang ia jalankan selalu terasa membumi. Puncaknya, ia sukses menggelar ajang pemilihan Bagus Roro Purworejo atas nama kedinasan. Acara itu tak hanya jadi ajang promosi wisata, tapi juga ruang bagi anak muda Purworejo untuk mengekspresikan diri dan melestarikan budaya lokal.
“Bagus Roro itu bukan sekadar kontes. Ini gotong royong anak muda untuk mengangkat nama daerah. Nilai itu persis sila ke-3 dan ke-5 Pancasila: persatuan dan keadilan sosial,” ujar Neira saat ditemui.
*Pancasilais di Era Digital: Dekat, Membimbing, Menjadi Teladan*
Yang membuat Neira berbeda adalah pendekatannya. Ia tak sekadar memberi instruksi, tapi turun langsung, berdiskusi, dan memberi arahan kepada teman-teman muda di lingkup kerja maupun komunitas.
Ia dikenal dekat dengan kalangan milenial dan Gen Z, tidak berjarak. Bagi Neira, Pancasila bukan slogan upacara, tapi panduan sikap.
“Bagi saya, Pancasila itu hidup. Sila pertama mengingatkan kita bekerja dengan nurani. Sila kedua membuat kita tidak pilih-pilih membantu. Sila ketiga menguatkan bahwa pariwisata dan ekonomi kreatif harus mempersatukan, bukan memecah. Sila keempat, setiap program lahir dari musyawarah dengan masyarakat. Dan sila kelima, semua akses dan peluang harus terbuka untuk semua, bukan hanya segelintir orang,” jelasnya.
*Menjadi Sauri Tauladan Kaum Muda*
Di mata rekan kerja dan komunitas, Neira adalah sosok sauri tauladan. Di usianya yang masih muda, ia membuktikan bahwa jabatan tinggi bisa diraih tanpa meninggalkan kesantunan, keterbukaan, dan semangat melayani.
Ia percaya, anak muda tidak boleh apatis terhadap ideologi bangsa. “Kalau bukan kita yang menghidupkan Pancasila di dunia digital, siapa lagi? Konten kreatif, literasi digital, promosi wisata—semua itu bisa jadi wujud nyata pengamalan Pancasila kalau diniatkan untuk kebaikan bersama,” tegasnya.
Menjelang 1 Juni, Neira mengajak generasi muda Purworejo untuk tidak hanya merayakan Hari Lahir Pancasila dengan seremoni, tapi dengan aksi nyata: berkarya, berkolaborasi, dan menjaga persatuan.
“Pancasila itu warisan. Tugas kita membuatnya tetap hidup di hati dan di layar gawai kita,” tutupnya.
*Catatan Redaksi:*
Neira Anjar Pujisusilo, http://S.Kom, http://M.Eng adalah contoh bagaimana nilai Pancasila bisa dihidupkan oleh anak muda melalui kerja profesional, kreativitas, dan kepedulian sosial. Di tengah tantangan disinformasi dan individualisme digital, figur seperti Neira jadi angin segar bagi Purworejo.
Mustakim
www.jejakkasusgroup.co.id


Social Header