Breaking News

Tujuh Tahun Bertahan, Pasar Inis Rayakan Festival Tumpeng Telang dengan Semangat Anak-anak dan Seni Rakyat

PURWOREJO – Di tengah hamparan sawah Desa Brondongrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Pasar Inis kembali hidup sejak pagi. Minggu (4/1/2026), pasar rakyat berbasis kuliner dan budaya ini menggelar Festival Tumpeng Telang ke-7, sebuah perayaan sederhana namun sarat makna yang menandai tujuh tahun perjalanan mereka bertahan secara mandiri.

Sejak pukul 08.00 WIB, warga dan pengunjung disambut arak-arakan Tumpeng Telang, ikon khas Pasar Inis yang telah melekat sejak awal berdiri. Prosesi tersebut dilanjutkan sambutan singkat Kepala Desa, doa bersama, serta rayahan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, festival kali ini menempatkan anak-anak Sanggar Paseban Pasar Inis sebagai pemeran utama. Mereka tampil dalam berbagai pertunjukan seni, mulai dari Wayang Uwuh (wayang dari bahan bekas yang dibuat sesuai kreativitas masing-masing anak Sanggar Tari  Paseban), Tari Kelinci, Tari Dolalak, hingga Tari Jaran Bolong, sebelum acara ditutup dengan makan tumpeng bersama dan Senam Sehat Pasar Inis.

Wayang Uwuh yang dipentaskan menjadi ruang kolaborasi lintas daerah. Pelaku seni asal Wonosobo, Mulyani, bersama Anon Suneko, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, berkolaborasi dengan anak-anak Sanggar Paseban. Kolaborasi ini mempertemukan seniman nasional dengan potensi lokal yang tumbuh dari pasar rakyat.

Mulyani mengaku terkesan dengan daya tahan Pasar Inis yang telah berjalan selama tujuh tahun. Menurutnya, bertahannya sebuah pasar rakyat dalam jangka waktu tersebut bukan hal mudah.
“Ini menunjukkan soliditas para pelaku di Pasar Inis. Apalagi kegiatan pasar dikolaborasikan dengan budaya, itu luar biasa dan jarang ditemui,” ujarnya.
Ia menilai upaya pengembangan sanggar harus terus dilakukan agar pengetahuan seni dari generasi tua dapat ditransfer secara berkelanjutan kepada anak-anak.

Sementara itu, Anon Suneko menyebut Pasar Inis sebagai ruang budaya yang tumbuh secara alami. Ia mengaku hampir setiap tahun terlibat dalam kegiatan di pasar tersebut, baik secara pribadi maupun bersama komunitasnya, Omah Gamelan Jogja.
“Di sini potensi kuliner, alam, dan kesenian berjalan beriringan. Jaringannya saling menguatkan, antara penari lokal, musisi lokal, dan seniman dari luar,” kata Anon.

Menurut Anon, Purworejo memiliki daya tarik khas pedesaan yang kini semakin sulit ditemukan di perkotaan.
“Saya merasa seperti pulang ke rumah. Keramahan warganya, suasana sawah, dan kesenian rakyatnya—seperti Dolalak dan Cingpoling—itu kekuatan besar,” tuturnya.
Ia berharap Pasar Inis tetap dibiarkan tumbuh organik tanpa harus berubah menjadi festival besar yang bergantung pada subsidi. “Biarkan tetap menjadi milik rakyat,” ujarnya.

Pemrakarsa Festival Tumpeng Telang, Purnomo, menjelaskan bahwa pemilihan nasi telang sebagai ikon tidak lepas dari sejarah awal Pasar Inis. Ia menuturkan, keteguhan para pedagang menjadi kunci utama keberlangsungan pasar tersebut.
“Mereka tetap berjualan meski pengunjung sepi. Pernah hanya ada satu pembeli, tapi pasar tetap buka. Itu yang membuat saya kagum,” katanya.

Purnomo menambahkan, keterlibatan anak-anak dalam festival tahun ini menjadi pembeda utama. Menurutnya, pengenalan budaya kepada anak-anak harus dilakukan secara bertahap dan menyenangkan.
“Tadi terlihat sendiri, mereka ceria sejak arak-arakan sampai pentas. Itu luar biasa,” ucapnya.

Ia juga menyinggung kondisi Sanggar Paseban yang sempat roboh akibat angin kencang. Pembangunan ulang sementara ditunda menunggu kondisi cuaca lebih stabil, namun kegiatan latihan tetap berjalan dengan memanfaatkan area lain di sekitar pasar.
“Latihan tetap jalan setiap Minggu. Anak-anak tidak berhenti belajar,” jelasnya.

Menutup rangkaian kegiatan, Ketua Paguyuban Pasar inis Ibu Ester Yuniastuti berharap Pasar Inis tetap solid dan terus berjalan seperti selama ini.
“Pasar Inis tidak terbiasa bergantung pada proposal. Mereka bekerja mandiri. Pernah ambruk, tapi bangkit lagi. Tujuh tahun ini bukan perjalanan yang mudah,” pungkasnya. (IMRN)

Mustakim


www.jejakkasusgroup.co.id
© Copyright 2022 - JEJAKKASUS.ID