Kudus Jejakkasus.id
Masyarakat Kudus yang di wakili Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus menyayangkan adanya penampilan dancesport dalam acara KONI Award 2025 yang dinilai terlalu erotis dan vulgar.
Penampilan tersebut menuai kontra karena ditampilkan di Pendapa Kabupaten Kudus,
Ketua Komisi D DPRD Kudus, Mardijanto, mengaku kaget setelah melihat banyaknya video penampilan tersebut yang beredar di media sosial.
Dalam video yang viral itu, tarian dan pakaian yang dikenakan penari dinilai tidak pantas untuk ditampilkan di Pendapa Kabupaten7 Kudus.
“Pendapa ini kan tempatnya sangat sakral lah. Tidak untuk tempat ya untuk kayak itu (dancesport) kurang pas. Kan ada yang lain yang bisa ditampilkan di situ,” ujar Mardijanto.
KONI Award sendiri digelar sebagai ajang penghormatan bagi para atlet, pelatih, pengurus cabang olahraga, serta berbagai elemen yang konsisten mendorong kemajuan olahraga di Kabupaten Kudus.
Acara tersebut berlangsung pada Senin malam, 29/12/2025, dengan dihadiri berbagai pemangku kepentingan olahraga daerah.
Namun penampilan dancesport dalam acara tersebut dinilai tidak sesuai dan tidak etis karena diselenggarakan di Pendapa Kabupaten Kudus.
Terlebih, Kudus dikenal luas sebagai "Kota Santri", seharusnya kegiatan yang digelar di ruang publik ikonik tersebut selaras dengan nilai-nilai budaya dan religius masyarakat setempat.
“Maaf saja, Kudus ini adalah kota santri. Ada dua sunan di Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kudus,” tandas Mardijanto.
Menindaklanjuti polemik tersebut, Mardijanto menyatakan akan segera memanggil pihak Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus selaku penyelenggara KONI Award 2025.
Pemanggilan ini bertujuan untuk mengklarifikasi penampilan dancesport yang menuai kritik dan kontra bagi masyarakat Kudus.
“KONI nanti dalam waktu dekat akan saya undang. Kalau alasan penyelenggara itu bukan sebuah tarian erotis, namun bagian dari olahraga. Untuk yang itu saya tidak sepakat. Kan ada yang lain, seperti pencaksilat, atau wusu, atau yang lain. Itu kan yang sopan,” terangnya.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kudus, Ali Ihsan, juga menyesalkan dengan adanya penampilan yang dinilai erotis dan tidak sopan tersebut.
Menurutnya, setiap hiburan yang digelar di Pendapa Kabupaten seharusnya tetap mengedepankan nilai edukasi bagi masyarakat.
“Ini penting, Kudus itu Kota Santri, apalagi di pendapa, kami menyayangkan itu. Ini viral dan ini viralnya negatif, mestinya viralnya teman-teman berkegiatan bisa penampilan pencak silat dan yang lain, itu kan lebih ada sisi edukasinya,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua KONI Kabupaten Kudus, Sulistyanto, saat dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui bahwa penampilan dancesport yang ramai diperbincangkan di media sosial tersebut akan tampil dengan konsep yang dinilai “nyentrik dan erotis”.
Ia menyebut kurangnya pengawasan menjadi salah satu penyebab terjadinya polemik ini.
“Ini memang kekurangan saya karena kurang ketat memantau, saya juga ikut kaget pas melihat penampilan itu dan sudah mengkomunikasikan itu sama pengcab IODI (Ikatan Olahraga Dancesport Indonesia),” tuturnya.
Sulistyanto pun menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi di tengah masyarakat. Ia berjanji ke depan KONI Kabupaten Kudus akan lebih ketat dalam memantau setiap penampilan maupun kegiatan yang berada di bawah naungan KONI agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Narasumber :
Ketua Komisi D DPRD Kudus, Mardijanto
Wapinred : Ramidi
Tim Wartawan : Irul - Rusmanto - Ricky


Social Header