Breaking News

Tayuban Merupakan Tradisi Peninggalan Leluhur Dan Harus Dilestarikan

PURWOREJO - Acara puncak Merti Desa Kelurahan Purworejo yang digelar pada Sabtu malam ( 20/12/2025) di Aula Kelurahan Purworejo,menampilkan Tayuban sebagai tradisi dan budaya Kelurahan Purworejo oleh Sanggar Tresno Laras dari Desa Sumber Agung Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo. Dalam  sambutanya Bupati Purworejo yang diwakili  oleh Kepala Dinas Pendidikan ,Yudhi Agung Prihatno menyampaikan ,bahwa kegiatan Merti Desa Kelurahan Purworejo harus terus dilestarikan. Karena kegiatan Tayuban ini sebagai tradisi dan budaya Kelurahan Purworejo dari peninggalan leluhur. Tradisi ini merupakan contoh bentuk kecintaan kita pada kepada bangsa ,negara serta daerah kita sendiri. Maka saya mengajak dan berpesan kepada masyarakat khususnya warga masyarakat Kelurahan Purworejo untuk terus nguri - uri peninggalan leluhur kita, " pungkas Yudhi Agung Prihatno.  
Sementara itu dari anggota DPRD  Ketua Fraksi PKB Purworejo ,Rudi Hartono mengatakan ,bahwa Merti Desa ini merupakan wujud syukur kita atas hasil limpahan rezeki kita ,dari hasil bumi kita, juga dari hasil - hasil yang lain. Dan Merti Desa ini walaupun saat  sekarang sudah jaman kemajuan IT yang sangat pesat, namun bisa menjadi alat silaturahmi dan sebagai alat komunikasi. Maka saya selaku  anggota DPRD Purworejo sangat menyuport kegiatan Merti Desa ini ," tandas Rudi Hartono.  
Disisi lain Mustakim yang sering disapa Gus Takim menceritakan sejarah Merti Desa Tayuban. Diceritakan oleh Gus Takim , bahwa sejarah Tayuban di Kelurahan Purworejo ,menurut Al marhum sejarahwan ,Atas Danu Subrata, bahwa Tayuban diselenggarakan oleh jaman pemerintahan ,Hasan Danuningrat yang bergelar  Cokronegoro ke III pada tahun 1904. Diceritakan oleh Al marhum Atas Danu Subrata, bahwa Cokronegoro ke III memerintahkan Sumo Ranurejo Glondong Brengkelan pertama, waktu itu belum Kelurahan Purworejo ,masih Desa Brengkelan. Untuk menggelar kegiatan Tayuban . Karena Tayuban ini peninggalan dari Simbah Ky Yunus Irsyad Luano. Disaat itu Simbah Ky Yunus Irsyad menebang Pohon Kayu Jati yang sangat besar dari Desa Bragolan Purwodadi  untuk membuat Bedug Purworejo. Saking besarnya Kayu Jati tersebut, Kayu Jati tersebut di glindingkan oleh puluhan kaum lelaki. Kemudian untuk menghilangkan kelelahan  para kaum lelaki , maka setiap 500 meter bergantian dan di hibur oleh kaum wanita berjoget dengan sampur didepan para kaum lelaki yang menggelindingkan Kayu Jati yang besar dibawa ke Alun - alun Purworejo saat ini. Penebangan Kayu Jati oleh Simbah Ky Yunus Irsyad di jaman pemerintahan Cokronegoro 1 pada tahun 1832.  Atas jasa Simbah Ky Yunus Irsyad ,maka Bupati Hasan Danuningrat atau Cokronegoro ke III memerintahkan Glondong Brengkelan Sumo Ranurejo untuk menggelar Tayuban pada bulan Rajab di Desa Brengkelan . Pada waktu itu pada tahun 1904 wilayah Alun - alun dan Kauman masih wilayah Desa Brengkelan. Dikatakan oleh Hasan Danuningrat bahwa Tayuban maknanya adalah dari kata Toyib artinya baik,bersih dan di tata, " pungkas cerita  Gus Takim

Mustakim 

www.jejakkasusgroup.co.id
© Copyright 2022 - JEJAKKASUS.ID