Breaking News

Dari Purworejo ke Penjuru Dunia, Pesan Antikorupsi yang Menembus Frekuensi HF–VHF

PURWOREJO - Pagi itu, halaman belakang kantor Inspektorat Kabupaten Purworejo tampak lebih ramai dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika para anggota ORARI Lokal Purworejo datang satu per satu, membawa perangkat radio dan antena portabel. Di antara mereka, beberapa pegawai Inspektorat terlihat menata peralatan apel, seolah mengetahui bahwa hari itu akan menjadi hari yang berbeda.

Senin, 8 Desember 2025—sehari menjelang peringatan Hari Antikorupsi Sedunia—Inspektorat Purworejo memilih cara yang tidak biasa untuk menyuarakan pesan antikorupsi. Alih-alih menggelar seminar atau membuat spanduk besar, mereka memutuskan mengirimkan pesan langsung melalui udara, memanfaatkan jaringan amatir radio yang selama ini jarang tersentuh isu semacam ini.

Apel singkat dipimpin Inspektur Pembantu (Irban) V, Anggit Wahyu Utomo. Tidak berlangsung lama, namun suasananya terasa hangat. Para anggota ORARI yang biasanya berkutat dengan frekuensi dan antena, hari itu berdiri satu barisan dengan pegawai pemerintah, menyatukan langkah untuk satu tujuan: menggaungkan semangat antikorupsi.

Sesaat setelah apel usai, mikrofon radio diserahkan kepada Kepala Inspektorat Kabupaten Purworejo, R. Akhmad Kurniawan Kadir. Dari sudut ruangan yang sederhana, ia memulai siaran yang kemudian dipancarkan melalui gelombang HF dan VHF, menjangkau siapa pun yang tengah memantau frekuensi amatir.

“Saya, Inspektur Kabupaten Purworejo, hari ini bekerja sama dengan ORARI Lokal Purworejo mengudara dalam rangka memperingati Hakordia 2025,” ucapnya dengan nada terukur. Ia menegaskan kembali tema nasional tahun ini, ‘Satukan Aksi Basmi Korupsi’, sebelum mengakhiri siarannya dengan ucapan terima kasih kepada para amatir radio di seluruh Indonesia.

Bagi Anggit Wahyu Utomo, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama. Selama bertahun-tahun bekerja di Inspektorat, ia belum pernah melihat kampanye antikorupsi dilakukan melalui gelombang radio. “Kami ingin memeriahkan Hakordia dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat. Radio amatir memungkinkan pesan ini menjangkau tempat-tempat yang barangkali tidak terjamah oleh media arus utama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, siaran berlangsung sepanjang hari—mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Sebanyak 20 operator ORARI bergiliran menjaga frekuensi, mengudara menggunakan mode phone maupun data. Pesannya tidak muluk-muluk, cukup mengingatkan publik agar tidak terjebak dalam praktik pungli, gratifikasi, suap, dan bentuk-bentuk KKN lainnya.

Anggit tidak menutupi kenyataan bahwa laporan dugaan penyimpangan di Purworejo masih muncul dari berbagai sektor. “Ada yang dari pemerintah desa, sekolah, sampai kelurahan. Beberapa sudah kami tindak lanjuti,” katanya. Harapannya sederhana: semakin banyak orang mendengar pesan antikorupsi, semakin kuat pula kesadaran publik untuk menjauhi praktik tersebut.

Di sisi lain, keterlibatan ORARI dalam kegiatan ini juga turut memberi warna baru bagi komunitas mereka. Ketua ORARI Lokal Purworejo, drg. Ernawan Cahyo Utomo, mengaku senang bisa ambil bagian.
“Biasanya kami sibuk dengan kegiatan teknis atau komunikasi darurat. Kali ini, kami diajak ikut menyuarakan antikorupsi. Rasanya berbeda, dan tentu kami mendukung penuh,” ucapnya.

Gelombang radio yang siang itu memantul dari satu antena ke antena lain bukan hanya membawa suara, tetapi juga harapan. Harapan bahwa pesan yang sederhana—namun penting—dapat terdengar oleh siapa saja yang kebetulan menangkapnya, entah itu dari pesisir, lembah, atau wilayah yang jauh dari keramaian kota.

Dan ketika malam mulai turun, suara terakhir dari studio sederhana Inspektorat perlahan mereda. Namun semangat yang dipancarkan sepanjang hari itu seperti tidak ikut padam. Ia tinggal di udara, menunggu diikuti oleh tindakan nyata dari siapa pun yang mendengarnya.  (IMRN)

Mustakim 

www.jejakkasusgroup.co.id
© Copyright 2022 - JEJAKKASUS.ID